oleh: Nofriyaldi
Sumatera barat merupakan wilayah Indonesia yang pernah lahir tokoh-tokoh hebat yang sangat diperhitungkan dan disegani kecerdasannya secara nasional maupun internasional. Keberadaan mereka masih kita rasakan melalui media da’wah yang mereka warisi yang masih banyak bertahan sampai hari ini seperti pesantren dan karya-karya terbaik mereka Lainnya.
Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Pasir berdiri tahun 1352 hijriah, merupakan salah satu pondok pesantren hasil jerih payah ulama Minangkabau di Sumatera Barat yang masih eksis sampai hari ini. Sebagai lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak generasi muda berwawasan Islami, peminat (Santri baru) tiada henti berdatangan dari berbagai daerah untuk menimba ilmu di dalamnya.
Sangat terlihat sekali antusias masyarakat terhadap pesantren yang berdiri di daerah usaha Konveksi ini, dengan memberikan kepercayaan penuh terhadap pondok pesantren untuk membangun karakter anak-anak mereka agar menjadi manusia berkepribadian kokoh, serta berwawasan, dan bermoral Islami.
Semua itu jelas dengan harapan besar agar anak-anak mereka nantinya menjadi jalan untuk mengenal Islam secara kaffah, serta mampu memberikan kontribusi yang membangun dalam kehidupan. Apalagi di tengah negeri yang hampir kering akan ulama ini, yang akan membebaskan umat dari jeratan berbagai krisis dan penjara kebodohan yang terus menghambat kemajuan bangsa.
Secara fisik MTI Pasir memiliki bangunan nan megah bertingkat empat 21 lokal dan Santri +- 700 orang, tentu hal ini merupakan prestasi yang tidak boleh diabaikan. Apalagi MTI pasir cukup dikenal baik diberbagai daerah di Sumatera Barat.
Lebih kurang 77 th hitungan tahun Hijriyah MTI Pasir berdiri dan mencetak ribuan Santri, tentu sudah banyak ulama dan tokoh-tokoh Islam lahir dari rahim yayasan pendidikan agama yang di banggakan masyarakat minang ini. Tetapi kenyataan yang ditemukan, belum diketahui siapa yang sudah menyandang gelar Profesor di bidang ilmu keislaman, sedangkan yang sudah menyandang gelar Doktor kurang dari 5 orang, jumlah ini barangkali karena malu mengatakan hanya baru dua orang, itupun tidak diketahui siapa orangnya. Yang MA sangat sedikit sekali jumlahnya, bisa jadi tidak perlu kalkulator untuk menghitungnya, cukup mengembangkan jari, lalu patahkan beberapa buah jari agar tidak kebanyakan jumlahnya.
Hal demikian tentu menjadi pertanyaan besar dalam benak kita, terutama yang punya perhatian penuh untuk pesantren yang dicintainya, apa yang terjadi sehingga tidak tercapainya target yang dicita-citakan?
Ada yang mengatakan, banyaknya alumni tidak dapat melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi disebabkan lemahnya ekonomi dan tingginya biaya hidup Santri. Pertanyaan-nya adalah: Bukannya kebanyakan profesor dan Doktor adalah orang-orang yang lahir dari keluarga ekonomi lemah? Lagi pula alumni MTI Pasir kebanyakan mereka berasal dari keluarga cukup kuat perekonpmiannya. Seandainya ekonomi yang menjadi kendala untuk lebih maju, seharusnya ilmu yang di timba selama ini bisa menjadi jalan untuk menutup kekurangan biaya, dengan cara mengajarkan atau mengembangkannya bagi yang membutuhkan ilmu tersebut.
Barangkali semua alumni sudah tahu, banyak sekali bea siswa yang ditawarkan, tetapi kenapa tidak banyak yang berani mengambil? Penulis melihat karena kebanyakan alumni-termasuk penulis sendiri- tidak mampu untuk mengambil kesempatan emas tersebut disebabkan lemahnya ilmu yang menjadi syarat untuk mendapatkannya.
Sudah beberapa kali MTI Pasir bangga karena siswanya mendapat nilai baik untuk hasil ujian UAN sesumatera barat, semua kita memang harus bangga dengan prestasi tersebut apa bila prestasi itu dicapai dengan intelektualitas Santri yang jujur, bagai mana dengan sebagian oknum guru-guru kita yang pernah mengajarkan murid-muridnya untuk curang dalam ujian demi sebuah pujian dunia? Bukankah itu adalah pendidikan yang me-malu-kan?. bagaimana dengan pendidikan agama? Mana identitas Pesantren yang telah kita jadikan media untuk menimba ilmu keislaman? kita memang menyandang almamater pesantren, tetapi adakah Santri yang bisa mempertanggungjawabkan Almamaternya di tengah masyarakat?
Dari sekian banyak masalah yang penulis lihat dan rasakan, sedikitnya sudah penulis sampaikan di atas, Sebagai alumni MTI pasir yang pernah nyantri selama 7 th (1997-2004), penulis melihat Pondok pesantren MTI Pasir perlu pembaharuan demi kemajuan Pondok Pesantren kedepannya. Dengan memperhatikan beberapa titik masalah penting, diantaranya:
- pendidikan agama (kurikulum pesantren) yang perlu pembaharuan. alasannya adalah:
- Masih dipertahankan Kitab yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kesahihan dalilnya, seperti kitab Duratun Naashihin sebagai kajian Tasawuf. akibatnya tidak sedikit pemahaman keagamaan dalam pesantren yang agak menyimpang dari nash yang shahih, ditambah lagi sedikit banyaknya masuk pemikiran-pemikiran tarekat sufi yang kebanyakan pendapat tersebut jauh dari nash yang shahih.
- Mempelajari kitab fiqih (masalah ibadah) hanya terfokus pada satu pemahaman saja tanpa terlebih dahulu memperkenalkan dasar Nash yang Shahih baik al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah SAW. sehingga terkesan pegangan dalam ibadah adalah Fiqh yang pemahamannya sangat terbatas, bukan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang universal. Akibatnya Santri tidak siap melihat berbagai perbedaan pemahaman terhadap teks (nash) yang sama, sehingga dia beranggapan yang paling benar. Akhirnya para Santri meremehkan dan bahkan menyalahkan pemahaman orang lain yang berbeda dengannya. Padahal orang yang disalahkan itu tidak jarang adalah orang-orang yang hafal al-Qur’an dan ratusan bahkan ribuan Hadits Nabi SAW.
- Sistem belajar agama yang menyulitkan Santri untuk mengerti lebih banyak dalil-dalil Nash yang Shahih. Karena waktu banyak dihabiskan untuk belajar ilmu bahasa Arab seperti Nahu dan Sharaf, sementara Santri tidak dibekali terlebih dahulu dengan keahlian berbahasa Arab praktis untuk mempelajarinya.
- Tidak adanya pembinaan keahlian berbahasa Arab dan Inggris. Akibatnya kebanyakan alumni MTI Pasir kesulitan menjadikan buku-buku berbahasa Arab dan berbahasa Inggris sebagai referensi ilmiah.
- Tidak terkelolanya pustaka sekolah dengan baik. akibatnya, Santri tidak terbiasa membaca, dan hampir kehilangan jendela dunia.
- Tidak di perhartikan hafalan al-Qur’an dan Hadits para Santri, akibatnya para Santri banyak yang tidak mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan agama di tengah-tengah masyarakat dengan dalil Nash yang Shahih.
- Pendidikan yang hanya berorientasi intelektual semata, tanpa pembinaan mental dan spiritual yang baik, mengakibatkan tidak jarang Santri melanggar aturan agama dan budaya yang baik.
- Ideology mazhab dengan fanatisme yang tinggi terhadap mazhab yang dianut, tanpa memahami dalil Nash yang pasti dalam mengimplementasikannya. Akibatnya sering kita temukan Para Santri sangat picik dalam berfikir dan seperti katak dalam tempurung, meremehkan dan menyalahkan pemahaman orang lain tanpa membaca dan mempelajari terlebih dahulu benar atau salahnya.
- Minimnya sarana penunjang untuk kelancaran proses belajar mengajar. Seperti asrama yang di dalamnya ada pembinaan, perpustakaan, laboratorium, dan sarana-sarana penting lainnya, mengakibatkan menambah sulitnya para Santri dalam mengakses ilmu pengetahuan.
- Kepemimpinan yang otoriter menyebabkan sulit bagi pesantren untuk maju secara substansial. Ditambah kurang jelasnya visi dan misi pesantren.
Di sinilah saya anggap penting diskusi hangat dengan seluruh alumni Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Pasir yang sudah tersebar di berbagai wilayah di nusantara ini, bersama-sama mencari solusi atas pelbagai persoalan di atas, sebagai bagian pengabdian kita terhadap pesantren yang pernah membesarkan Pribadi kita. Mari majukan dan satukan suara bersama-sama membawa perubahan positif ke dalam tubuh Pesantren ini.
Oleh: Nofriyaldi
Tulisan ini lebih diutamakan untuk seluruh alumni MTI Pasir. juga terbuka bagi siapa saja yang ingin memberikan komentar.